Ramadan Penjual Rujak

Sekitar dua pekan lalu, penjual rujak yang mangkal dengan gerobaknya
di seberang pintu gerbang masjid di hari Jumat, memberi tahu
rencananya akan pulang kampung ke Garut, Jawa Barat, dari awal
Ramadan. Saya memaklumi kondisinya sebagai penjual makanan yang
kendati tidak ada larangan secara khusus untuk berjualan di siang
hari selama bulan puasa Ramadan, Saya malu, nggak enak,
berjualan selama bulan puasa
, jelasnya kepada saya.

Malu adalah sebagian dari iman dan terhadap kesederhanaan kalimat
yang diucapkan, saya tidak perlu menerka-nerka isi hatinya.
Tempatkanlah segala sesuatu secara proporsional, baik yang tersurat,
pun yang tersirat.

Tentu ada kesulitan untuk orang-orang seperti penjual rujak tsb.
berhenti dari profesinya selama sebulan. Negara kita belum mempunyai
jaminan sosial yang memadai jika dibandingkan dengan “hak libur”
sekitar sepekan selama musim panas untuk memberi kesempatan
berekreasi di salah satu negara sosialis di Eropa. Begitu pula
kendati urusan libur berjualan selama bulan Ramadan sudah berulang
setiap tahun berbelas-belas kali untuk si tukang rujak — dan
ratusan penjaja makanan lain — penghasilan mereka secara umum
acapkali sulit diatur agar “sebelas bulan bekerja untuk dua belas
bulan dalam setahun”. Lebih-lebih jika diingat Ramadan dan Syawal
adalah bulan-bulan dengan konsumsi ekstra — setidaknya dia perlu
ongkos untuk pulang kampung, bertemu keluarga, membawa oleh-oleh,
dan persiapan perayaan. Sesuatu yang sampai tingkat tertentu lazim
dilakukan semua bangsa di seluruh dunia menyikapi perayaan.

Di KRD Cicalengka-Padalarang
langganan saya pada tahun 1995-2000 dulu, para penjaja makanan di
sekitar stasiun kecil dan di dalam gerbong mengganti barang dagangan
selama bulan Ramadan. Kudapan dan minuman dalam kemasan diganti
dengan peralatan dapur dan menjahit, mainan anak-anak, dan buku atau
brosur doa. Pada perjalanan pukul 17.00 dst. penjaja makanan dan
minuman mulai berdatangan dan sebagian orang terutama yang berjejal
di dekat pintu mulai pasang telinga mendengar adzan sayup-sayup di
sepanjang Kiara Condong-Gedebage.

Begitu adzan maghrib terdengar, biasanya ada komando
bersahut-sahutan dan semua berbuka puasa dengan perbekalan yang
dibawa. Saya pernah sekali hanya berbuka dengan permen karena
beranggapan toh 10 menit lagi kami akan sampai di Rancaekek, jadi
minum dan lain-lain di rumah saja, ternyata seorang bapak di depan
saya dengan tersenyum menawarkan dan menyodorkan secangkir plastik
air putih yang entah dibawa atau baru saja dibeli dari penjaja.

Saya tidak ingin berlebih-lebihan mengait-ngaitkan bulan Ramadan
dengan aneka retorika untuk menjelaskan kemuliaan bulan ini,
ungkapan penjual rujak dan sodoran air minum di dalam gerbong kereta
sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan keseluruhan penghormatan
saya atas bulan ini.

Saya juga merasa jauh (dan memang sebaiknya menjauh) dari koleksi
undangan buka bersama, tarawih berbondong-bondong, hingga keharusan
berbelanja untuk lebaran. Termasuk yang sudah saya coba: menghindari
eksodus besar-besaran mudik lebaran. Kendati keinginan
bersilaturahim dengan keluarga besar di kampung halaman tetap
menggugah niat ikut pulang kampung, disertai mempertemukan anak-anak
dengan keluarga besar di sana, menggeser perjalanan setelah masuk
Syawal (bukan di akhir Ramadan) sudah mulai meringankan pikiran saya
untuk tidak berdesak-desak pada titik puncak mudik.

Memang hal seperti ini tidak untuk digeneralisasi, setiap orang
memiliki kecocokan dan keterbatasan berdasarkan lingkungannya, namun
jika hal tsb. diimbangi dengan niat berkontribusi terhadap
kekhidmatan bulan puasa, marilah kita jalankan, ciptakan, dan jangan
hanya berhenti menunggu atau mencari. Hal ini bukan mereduksi
Ramadan menjadi urusan masing-masing, melainkan secara kolektif kaum
muslimin harus menghormati semua orang dan berpuasa atau mengurangi
nafsu ingin dihormati.

Beberapa kali kita menjadi direpotkan oleh polemik beberapa profesi
yang terhalang bekerja selama bulan Ramadan. Persoalannya adalah
regulasi tentang hal tsb. sebenarnya belum ada dan dengan situasi
seperti sekarang terlalu berpayah-payah menjadikan hal tsb. sebagai
peraturan yang mengikat. Lebih elegan dan berakhlak baik jika
kesadaran tsb. muncul dari kita sendiri sebagai pelaku ibadah puasa
dalam bentuk komitmen. Alasan ekonomis sebagai dampak dari komitmen
tsb. akan lebih realistis menahan peningkatan konsumsi selama bulan
Ramadan.

Demikian halnya untuk para pedagang keliling dan asongan yang
berkurang omsetnya selama bulan Ramadan, akan lebih afdol jika
dibantu dengan dana konsumsi yang kita alihkan. Berikan penghormatan
kita terhadap bulan Ramadan salah satunya dengan membantu mereka
dalam bentuk uang, agar rasa malu mereka berjualan selama bulan
puasa diikuti oleh ketenangan karena secara finansial.

Tentu saja dunia ini tidak selalu indah dan teratur saling
melengkapi seperti paparan di atas, selalu ada bagian-bagian
tertentu yang mengganjal atau tidak semestinya. Ini termasuk bagian
dari puasa kita juga untuk menyikapi dan saya yakinkan: jika kita
telah mengerjakan bagian kita, sekecil apapun, itu tetap lebih besar
dan melengkapi perspektif kita terhadap permasalahan tsb. Apalagi
jika dikerjakan dalam kapasitas yang besar.

Inilah Ramadan: yang datang lebih awal adalah kemauan dan tindakan,
bukan wacana. Buktikan!

2 Replies to “Ramadan Penjual Rujak”

  1. awalnya terpaksa, pekerjaan mengharuskan tidak dapat pulang ke rumah saat Idul Fitri. namun pada akhirnya, keterpaksaan yang hanya berlaku 2 tahun pertama itu sekarang menghadirkan perasaan yang berbeda. keharusan berada di rumah saat Idul Fitri BUKAN HARGA MATI. kehidupan masih saja berjalan meski tak hadir di rumah saat Sholat Idul Fitri.

    tapi sekarang lain, ada kawan serumah yang harus ditemani dan disiapkan perjalanannya untuk dapat hadi di rumah saat Sholat Idul Fitri.

    1. Hehehe, memang periodisasi itu perlu ditelaah. Ada masa dengan kondisi A, B, C, dst. 🙂

Comments are closed.