Belanja Konsumsi Ramadan

Ramadan 1432H hari ini berakhir. Salah satu pengulangan pembicaraan
sejak sebelum Ramadan adalah konsumsi kaum muslimin/muslimat dalam
“bulan menahan diri” ini. Terlihat dari perilaku sehari-hari di
sekitar hingga perhitungan lembaga terkait, konsumsi umat Islam
terlihat menaik. Sebagai tulisan yang bersifat introspeksi, tentu
baik adanya: mengingatkan kita kaum muslimin agar senantiasa
menjauhi pemborosan, karena “mubazir itu teman setan”, dan
lebih-lebih bertentangan dengan salah satu semangat bulan Ramadan,
yaitu berempati terhadap bagian dari umat yang kekurangan.

Namun ada pula yang dengan spekulatif menjadikan hal ini seperti
tudingan terhadap umat Islam secara umum, bahwa Ramadan telah
merepotkan kondisi perekonomian di Indonesia karena nafsu belanja
yang meningkat — dan berpotensi “gila-gilaan”, sehingga berujung
pada kenaikan inflasi. Karena Ramadan akan datang sepanjang tahun
Qomariyah, apakah hal ini akan menjadi rutinitas?

Continue reading “Belanja Konsumsi Ramadan”

Tinggal Sehari Besok

“Tinggal sehari besok”, terdengar bisik-bisik seorang jemaah Subuh di masjid. Ada yang merasa tercekam akan berpisah dengan bulan mulia, ada juga yang seperti menghela nafas lega. Saya tidak ingin gegabah memvonis: masing-masing memiliki latar belakang dan tetap ada rahasia Allah terhadap kondisi hamba-Nya.

Yang saya syukuri: beberapa kali saya bertemu tukang ojeg kenalan
sedang salat zuhur di masjid di akhir Ramadan ini, selain beberapa
sopir angkot yang memang sudah berlangganan salat berjemaah di
masjid. Pangkalan ojeg di ujung jalan sudah lebih sepi, mengikuti
aktivitas di sekitar yang mulai menurun. Kesibukan yang sedikit
meningkat di masjid membawa harapan karena terlihat ada penumpang
ojeg minta diantar meninggalkan masjid.

Continue reading “Tinggal Sehari Besok”

Kuliah Umum “Islam, Indonesia, dan Pancasila”

Kemarin sore saya menyempatkan diri mendatangi Kuliah Umum yang
diselenggarakan Masjid Salman ITB.
Berjudul [Islam, Indonesia, dan Pancasila](http://upcoming.yahoo.com/event/8254367), kuliah umum
disampaikan oleh [Yudi
Latif](http://psik-indonesia.org/home.php?page=penulis&id=9),
penulis buku [Negara Paripurna:
Historitas, Rasionalitas dan Aktualitas Pancasila
](http://www.goodreads.com/book/show/11706499-negara-paripurna). Tema yang
menarik bagi saya dengan harapan akan gambaran yang lebih teduh
untuk mempertemukan agama dan kebangsaan.

Sedikit yang membuat saya mengernyitkan dahi adalah tulisan yang
dipilih sebagai pengantar di undangan Facebook untuk Kuliah Umum
ini,

INILAH ironi kolektif bangsa yang gagal. Ibarat sudah memegang mutiara, tapi malah dikubur dan berusaha mencari mutiara lain di tumpukan puing-puing kehancuran rumah milik orang lain.

Mungkin itulah salah satu analogi tentang eksistensi Pancasila sebagai dasar negara Republik ini yang semakin pudar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Korupsi yang diperagakan penyelenggara negara dan kroni-kroninya, tindak kekerasan yang terus masif atas nama pembenaran privat, dan praktik ekonomi yang timpang, serta lemahnya akses-akses bagi warga negara untuk memperoleh hak-hak mendasar adalah secuil bukti kebobrokan negara ini.

— Sumber: Negara
Paripurna itu Semakin Menjauh
.

Frase “ironi kolektif” dan “gagal” seperti bersahutan dengan
“keterpurukan” yang menimbulkan suasana tidak nyaman. Semoga
diskusi tsb. tidak menjadi acara ratapan berjemaah.

Continue reading “Kuliah Umum “Islam, Indonesia, dan Pancasila””

Semarak di Awal, Harapan untuk Seterusnya

Untuk sebagian orang yang sudah rutin mendirikan sholat berjemaah di
masjid seyogyanya awal Ramadan membuatnya lebih berbahagia: masjid
penuh diisi jemaah sholat Isya’, khotbah, dan sampai tarawih.
Bacaan “amin” setelah Al Fathihah menggaung di dalam masjid. Hampir
seperti sholat Jumat. Ini harus disyukuri, sampai hari-hari
pertengahan Ramadan pun, jumlah barisan sholat masih lebih banyak
dari rata-rata sehari-hari.

Kata sebagian orang dengan bercanda: di awal Ramadan masjid-masjid
semarak, setelah itu surut, kemudian semarak kembali sebelum
berpisah. Ada juga yang mengomentari: seharusnya kesemarakan seperti
ini bukan hanya di bulan Ramadan, melainkan menjadi kebiasaan
sehari-hari.

Continue reading “Semarak di Awal, Harapan untuk Seterusnya”