Belanja Konsumsi Ramadan

Ramadan 1432H hari ini berakhir. Salah satu pengulangan pembicaraan
sejak sebelum Ramadan adalah konsumsi kaum muslimin/muslimat dalam
“bulan menahan diri” ini. Terlihat dari perilaku sehari-hari di
sekitar hingga perhitungan lembaga terkait, konsumsi umat Islam
terlihat menaik. Sebagai tulisan yang bersifat introspeksi, tentu
baik adanya: mengingatkan kita kaum muslimin agar senantiasa
menjauhi pemborosan, karena “mubazir itu teman setan”, dan
lebih-lebih bertentangan dengan salah satu semangat bulan Ramadan,
yaitu berempati terhadap bagian dari umat yang kekurangan.

Namun ada pula yang dengan spekulatif menjadikan hal ini seperti
tudingan terhadap umat Islam secara umum, bahwa Ramadan telah
merepotkan kondisi perekonomian di Indonesia karena nafsu belanja
yang meningkat — dan berpotensi “gila-gilaan”, sehingga berujung
pada kenaikan inflasi. Karena Ramadan akan datang sepanjang tahun
Qomariyah, apakah hal ini akan menjadi rutinitas?

Bagaimana sebenarnya kondisi perputaran uang selama bulan Ramadan
tsb.? Fakta yang terkumpul:

1. Firma riset Nielsen memperkirakan konsumsi barang-habis sebesar Rp 25,74 trilyun, naik sekitar 12% dibanding Ramadan sebelumnya.
1. Bank Indonesia menyebut sirkulasi uang untuk Ramadan 2011 sebesar Rp 61,46 trilyun.
1. Penduduk Indonesia sekarang ini sekitar 238 juta dan jumlah pemudik sekitar 15 juta.

Secara sambil lalu, angka-angka trilyunan di atas mengesankan jumlah
yang luar biasa banyak dan potensial dijadikan bahan retorika.
Padahal, coba lakukan pembagian antara konsumsi tsb. dan jumlah
penduduk Indonesia, akan diperoleh angka sekitar
Rp 108 ribu/orang/bulan. Saya gunakan pembagi berupa jumlah
penduduk Indonesia karena yang turut mengonsumsi dan memutar duit
sehari-hari adalah semua penduduk Indonesia. Tidak dibedakan ybs.
muslim atau bukan, berpuasa atau tidak.

Jumlah Rp 108 ribu/orang/bulan relatif kecil, berarti
hanya sekitar Rp 6.000/orang/hari. Setara dengan satu porsi
menu paling sederhana di warteg. Di The Jakarta Globe ditulis
ilustrasi beberapa narasumber yang [mengaku memang menghabiskan uang
untuk belanja dan makan di luar lebih banyak dibanding hari-hari
biasa](http://www.thejakartaglobe.com/lifestyle/how-much-does-ramadan-cost/461430). Dalam pengakuan itu, faktor seperti “balas dendam” setelah
sehari tidak makan/minum menyebabkan belanja saat dan setelah
berbuka menjadi lebih banyak dibanding hari-hari biasa. Disebut pula
bahwa sekali makan salah satu narasumber menghabiskan
Rp 50.000. Artinya, angka rata-rata Rp 108 ribu/bulan
tadi habis hanya untuk belanja makan dua hari. Dengan demikian isu
pemerataan masih relevan dalam hal ini, yaitu antara kelompok yang
memang bertambah konsumsinya dan kelompok lain yang sebenarnya
“tetap-tetap saja” atau “malah berhemat” dengan berpuasa Ramadan.

Termasuk juga secara sekilas terlihat perbedaan gaya hidup urban
dengan di kampung, semisal pada acara buka bersama yang menjadi tren
undang-mengundang dan ajang acara silaturahim, apapun tujuannya, di
kota. Peningkatan ongkos konsumsi tampak tidak terelakkan karena
beberapa konsekuensi:

1. Perubahan pola hidup berkaitan dengan Ramadan. Semua transisi perlu ongkos selama perubahan sampai dengan kondisi stabil kembali. Termasuk dalam hal ini, perubahan kesibukan dari siang menjadi malam, waktu berkegiatan (contoh: buka puasa) yang pendek (sehingga terjadi antrean). Hal-hal seperti ini tidak terelakkan dalam skala besar seperti di kota, yang dapat dilakukan adalah menguranginya.
1. Perubahan interaksi sosial, seperti keinginan untuk menyelenggarakan acara bersama (dari keluarga hingga reuni komunitas), keinginan membantu sesama dalam bentuk sedekah. Apapun latar belakangnya, terjadi aliran uang yang sangat mungkin berbeda dengan hari-hari biasa dan berjumlah lebih banyak. Secara umum, hal ini akan meningkatkan jumlah putaran uang yang dihitung oleh Bank Indonesia.

Ongkos sisanya adalah keperluan-keperluan lain yang sebenarnya tidak
esensial, namun karena beberapa budaya yang disandingkan begitu saja
dengan ibadah puasa di bulan Ramadan, seolah-olah dianggap “bagian
dari Ramadan”. Tidak ada anjuran untuk “makan lebih enak” dan
“berkumpul ramai-ramai”. Begitu pula dengan mudik yang menjadi
tradisi silaturahim dalam bentuk eksodus sangat besar, sangat
berpotensi memberi kontribusi signifikan pada perputaran uang selama
Ramadan. Perhelatan 15 juta manusia saat mudik ini tidak ada
hubungan dengan bulan Ramadan.

Angka-angka di atas kemungkinan besar akan naik dari tahun ke tahun,
penyebabnya jumlah penduduk yang meningkat dan rata-rata belanja
juga ikut bertambah, semisal terkait dengan peningkatan kualitas
belanjaan. Ini semua tidak selalu terkait atau disebabkan oleh
Ramadan, oleh karena itu, “memang benar peningkatan inflasi terjadi
di bulan Ramadan, namun bukan serta-merta amalan bulan Ramadan itu
sebagai penyebab”.