Semarak di Awal, Harapan untuk Seterusnya

Untuk sebagian orang yang sudah rutin mendirikan sholat berjemaah di
masjid seyogyanya awal Ramadan membuatnya lebih berbahagia: masjid
penuh diisi jemaah sholat Isya’, khotbah, dan sampai tarawih.
Bacaan “amin” setelah Al Fathihah menggaung di dalam masjid. Hampir
seperti sholat Jumat. Ini harus disyukuri, sampai hari-hari
pertengahan Ramadan pun, jumlah barisan sholat masih lebih banyak
dari rata-rata sehari-hari.

Kata sebagian orang dengan bercanda: di awal Ramadan masjid-masjid
semarak, setelah itu surut, kemudian semarak kembali sebelum
berpisah. Ada juga yang mengomentari: seharusnya kesemarakan seperti
ini bukan hanya di bulan Ramadan, melainkan menjadi kebiasaan
sehari-hari.

Betul, masuklah ke dalam Islam dengan kaffah (sempurna, lengkap), kerjakan dengan
paripurna. Walau demikian, inilah tuntutan yang sangat berat. Sama
seperti tuntutan terhadap kenyamanan di jalanan kita yang dapat
merembet pada soal disiplin pengendara, kondisi jalan yang layak,
pengadaan rambu-rambu yang memadai, petugas pengelola jalan dan
pengatur lalu-lintas yang cakap, dst. jika tidak direm berujung pada
kejahatan besar bernama korupsi yang mengakar pada sistem dan
budaya.

Begitu juga dengan perkara semarak tarawih di awal Ramadan, jika
dibahas terus-menerus hingga pertanyaan menohok seperti “Islam hasil
pencarian atau bawaan dari lahir”, “kulit atau esensi”, “syariat
atau makrifat”. Tentu bagus untuk introspeksi, namun jika
dilemparkan sebagai bola panas di depan umat, ada yang benar-benar
terbakar walau belum berjenggot, dan ini kontra-produktif. Toh si
pelempar juga kerepotan jika harus menakar kesanggupan umat menerima
bahan lontaran membara seperti itu.

Bawalah angin sejuk, ucapan yang baik, dan pemahaman akan kondisi
orang lain yang berbeda. Panjatkan syukur bahwa dalam setahun ada
sebulan masjid terisi di atas rata-rata dan semoga “perayaan” pendek
tsb. menjadi kenangan yang baik buat pelakunya. Mendoakan kebaikan
tanpa diketahui orang yang didoakan disebut-sebut mulia di buku saku
Doa tulisan Ustadz Miftah Farid.

Serendah-rendahnya angka statistik 0,1% saja berhasil mengajak
mereka mengikuti sholat berjemaah selanjutnya, bukan hanya di bulan
Ramadan, jumlah tersebut cukup. Lebih-lebih jika diingat bahwa
membuka satu hati pun kita sendiri, manusia, tak akan sanggup tanpa
izin-Nya.