Amanah dari Lipatan

Seperti paparan saya tentang memaksa diri sendiri agar disiplin
berkarya dan keyakinan bahwa jumlah latihan penting, seharusnya
sekarang ini saya dapat mengulang pemaksaan di masa lalu, misalnya
satu tulisan setiap hari, disebar ke beberapa tempat kegiatan blog.
Situs ini, [#direktif](http://direktif.web.id), [Google
Plus](https://plus.google.com/u/0/100145856129045595138/about), dan
satu lagi [Wislog](http://wislog.blogspot.com), harus diisi
secara rutin. Masak kalah oleh semangat memasang foto di Flickr?

Salah satu alat latihan yang sudah saya gunakan beberapa kali adalah
Facebook. Dengan ukuran teks yang lebih leluasan dibanding
mikroblog, Facebook terasa nyaman. Hal serupa yang terasa
mengasyikkan di Google Plus. Sayang juga jika ide-ide disebar
serampangan di mikroblog, apalagi ditandai urutan angka. Saya
setuju penuh dengan [tulisan Affan Basalamah tentang
kultwit](http://affanzbasalamah.wordpress.com/2011/04/04/10-alasan-kenapa-kultwit-harusnya-dijadikan-blog-saja/),
sampaikanlah dengan elegan.

Seorang teman menyarankan saya menuliskan bagian-bagian penting dari
buku yang sedang saya baca. Usulnya seperti doa kemarin sore: [Yudha
P. Sunandar](http://myudhaps.wordpress.com/) tiba-tiba menghadiahi saya buku tebal dan bertopik
berat, [Dunia yang
Dilipat
](http://www.kutukutubuku.com/2008/open/22454/dunia_yang_dilipat_),
oleh [Yasraf Amir Piliang](https://www.facebook.com/people/Yasraf-Amir-Piliang/1470919345).
Tentu gembira dihadiahi buku, Terima kasih, Yudha!

"Dunia yang Dilipat"

Mulailah terasa bahwa ini amanah dan tantangan agar khazanah yang
ada di buku tsb. tidak berhenti sampai saya baca, melainkan harus
terus dialirkan. Harus sanggup, coba dulu! Bismillah.