Jelajah Pangandaran 2012

Tanggal 24 November lalu saya berkesempatan mengikuti Jelajah
Pangandaran 2012
. Diselenggarakan oleh Kementrian Pariwisata dan
Ekonomi Kreatif, pelaksanaan acara ini dikerjakan Indecon.
Jelajah Pangandaran berisi serangkaian acara dan
kunjungan di kawasan dekat Pantai Pangandaran, Kabupaten
Pangandaran, Jawa Barat. Setelah menempuh perjalanan sekira
5 jam Bandung-Pangandaran, acara di tujuan penjelajahan
berlangsung dari 24 November pukul 19 hingga
26 November pukul 14. Reportase perjalanan tsb. akan
dipublikasikan dalam beberapa tulisan di bawah ini:

  1. Jelajah Pangandaran 2012 (tulisan ini).
  2. Jelajah Pangandaran: Tarian Pesta Panen dan Ronggeng Gunung.

Terima kasih untuk Rendy Maulana yang
telah mendaftarkan saya sebagai peserta.

Berapa lama perjalanan ke Pantai Pangandaran? Ini pertanyaan awal
yang disampaikan teman lewat email setelah membaca reportase
langsung Jelajah Pangandaran di status Facebook saya.
Pada perjalanan kami Sabtu tsb. Bandung-Pantai Pangandaran ditempuh
sekira enam jam, dengan satu jam beristirahat makan siang di dekat
Cicalengka, Kab. Bandung Barat. [Google Maps](http://goo.gl/maps/c8uvw) memberi prediksi
lama perjalanan enam jam (tanpa istirahat).

Rute Bandung-Pangandaran oleh Google Maps http://goo.gl/maps/c8uvw
Rute Bandung-Pangandaran oleh Google Maps

Beruntung tidak ada kemacetan berarti di akhir pekan tsb., karena
menurut keterangan pemandu saat libur sekolah lalu-lintas sudah
melambat sejak pintu gerbang pantai. Apakah karena pada hari-hari
ini hujan sedang mengisi musim, mungkin juga, yang jelas di segmen
Banjar-Padalarang kami diguyur hujan lebat. Kondisi jalan raya juga
bagus dan ini dipuji oleh teman di kantor sebagai perbaikan yang
terasa terakhir ini di Jawa Barat. Saya tidak mengomentari lebih
jauh, karena tidak punya pembanding dengan keadaan sebelumnya dan
lagipula Jawa Barat sedang menyongsong Pemilihan Gubernur bulan
Maret mendatang, menyikapi perubahan perlu bijak.

[Kabupaten Pangandaran diresmikan
25 Oktober](http://www.antarajawabarat.com/lihat/berita/40343/kabupaten-pangandaran-resmi-ditetapkan “Kabupaten Pangandaran Resmi Ditetapkan”) lalu, bersama sejumlah
penambahan administrasi daerah baru (yang sering disebut
“pemekaran”), lepas dari Kab. Ciamis. Saya sempat menduga-duga
adakah keterkaitan acara promosi wisata ini dengan perubahan
administrasi pemerintahan ini, namun jika didengar dari keterangan
tuan rumah dan kabar dari media, mereka masih disibukkan mengurus
peralihan tsb.

Saya pernah berwisata ke Pantai Pangandaran sekali kira-kira dua
puluh tahun lalu, sehingga boleh dikata tidak ada gambaran yang
memadai tentang kota-pantai ini. Yakin semuanya telah berubah
banyak disebabkan oleh jumlah warga dan gaya hidup, dua hal yang dominan.

Masih tersisa gerimis saat kami sampai di hotel pada pukul 19-an.
Sekilas terlihat di sekitar hotel penuh lapak Pedagang Kaki Lima
(PKL) yang menawarkan cindera mata, jasa penggambaran tato di badan,
hingga penyewaan sepeda. Suasana cukup semarak, tipikal wisatawan
pantai. Teringat akan jalan-jalan di sekitar Kuta, Bali, sedangkan
Pangandaran berukuran lebih mini, jalan raya pun lebih sempit.
Lalu-lalang bersepeda terlihat mengasyikkan, termasuk acara semi-wajib
bersepeda tandem, berbarengan dikendarai satu rombongan.

Beach Clothes Store

Kawasan pantai menyenangkan untuk bersepeda medan datar dan
bersamaan dengan kedatangan kami, disebut oleh penerima tamu bahwa
ada acara kumpul-besar pengendara sepeda dari Jakarta dan sekitarnya
dan mungkin juga Bandung. Warga menyambut acara besar pengendara
sepeda tsb. dengan keikutsertaan klub pengendara sepeda lokal. Ini
informasi keterlibatan warga pertama yang saya dengar.

Betul, tantangan pertama yang perlu dihadapi wisatawan untuk datang
ke Pantai Pangandaran adalah waktu di perjalanan. Buat wisatawan
dari Jakarta misalnya, otomatis perlu waktu hampir sehari di
perjalanan dengan berkendara mobil. Hal seperti ini dapat
menghabiskan waktu libur terlalu lama.

Alternatif lain adalah menggunakan pesawat terbang. [Bandara Nusawiru
di Kecamatan Cijulang](http://www.jabarprov.go.id/index.php/subMenu/879) dapat dijadikan pilihan lain. Memang ada
untung-rugi (trade off) dalam hal ini: berkendaraan sendiri
lebih leluasa, lebih-lebih untuk rombongan-mini keluarga – mengingat
angkutan umum masih meragukan, namun perlu waktu-tempuh cukup lama;
sebaliknya menggunakan pesawat terbang dapat menjadi repot dengan
mobilitas di lokasi tujuan. Termasuk perlu dipastikan angkutan dari
bandara ke hotel.