Margaret

Dari Beranda Facebook, saya mendapat kabar Margaret Thatcher
meninggal dunia. Saya tertarik menulis kenangan tentang Thatcher
yang disebut “wanita besi”. Tentang sedikit catatan seputar dirinya saat berkuasa
dan setelahnya.

Thatcher memang punya pengaruh luas. Rasanya sepanjang usia saya
mengenali pemerintahan di Inggris (atau Kerajaan Bersatu, UK?),
Thatcher yang paling mendominasi ingatan. Kisah-kisahnya dimuat di
media massa pada tahun 1990-an — kendati saya tidak hapal
tahun-tahun kekuasaannya. Pada saat kunjungannya ke Jakarta pertama
kali, sambutan akan kedatangannya meramaikan media massa. Semacam
kebanggaan di zaman Orde Baru, Presiden Soeharto menerima tamu
sekelas Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher. Kira-kira sama
semarak dengan kedatangan Presiden Prancis François Mitterrand.

Pada kunjungan pertama, Thatcher datang sebagai perdana menteri,
sehingga Soeharto menunggu sang tamu di Istana Negara dan barulah
ibu perdana menteri datang. Sebaliknya, pada kunjungan kedua ke
Jakarta beberapa tahun kemudian, Thatcher sudah tidak menjabat
sebagai perdana menteri, dia datang di ruangan terlebih dulu, dan
barulah beberapa saat kemudian Soeharto — yang masih menjabat
sebagai presiden — memasuki ruangan. Protokoler seperti ini penting
dan seingat saya dibahas dengan menarik di salah satu media massa
saat itu.

Saat Thatcher sebagai perdana menteri juga, perang Inggris-Argentina
ihwal sengketa Kepulauan Malvinas atau Falkland muncul. Nama
“Malvinas” menjadi populer di Indonesia, sampai ada Bakso Malvinas.
Salah satu soal ujian masuk SMP
saya juga berisi pertanyaan tentang Perang Malvinas, tampaknya pihak
sekolah ingin mengukur seberapa jauh calon siswa mengikuti kabar
berita dunia. Salah satu acara menarik di TVRI saat itu tentang
perang dan persenjataan; Perang Malvinas menjadi bahan acara
tersebut cukup lama.

Puncaknya, keseluruhan perang tsb. dijadikan film dokumenter dan
diputar di gedung bioskop. Cukup ramai ditonton masyarakat di
kecamatan kami di Jember, Jawa Timur. Benar-benar film dokumenter
dan lebih banyak menampilkan peralatan perang paling modern saat itu,
seperti pesawat Sea Harrier yang dapat lepas landas vertikal, rudal
anti kapal laut, dan pesawat Mirage. Secara tidak langsung seperti
unjuk teknologi militer Inggris dan Prancis, yang peralatannya
digunakan Argentina. Film perang ini satu-satunya film komersial
yang menggambarkan situasi dunia tidak jauh setelah kejadian
berlangsung di masa sekitar satu dekade sebelum CNN memulai liputan
langsung perang ke televisi.

Tangan besi Thatcher menjadi sindiran di majalah Index of
Censorship
yang saya ikuti saat itu. Kebijakan pemerintahan
Thatcher tentang keterbukaan sering diekspos dalam paparan teks
hingga olok-olok berupa poster vulgar. Barangkali semacam humor
gelap bergaya Eropa.

Kantor perdana menteri Inggris “Downing Street Number Ten” juga
terbawa dalam ekspos media di sekitar kunjungan Thatcher ke
Indonesia. Salah seorang pembawa berita TVRI yang dianggap berbahasa
Inggris paling fasih saat itu juga berkesempatan mewawancarai
langsung Thatcher dan turut mengangkat popularitas pembawa berita
tsb. Mewawancarai perdana menteri secara langsung juga menjadi daya
tarik buat kami penonton televisi di kampung, karena tidak pernah
ada wawancara langsung dengan Bapak Presiden Republik Indonesia.

Selamat jalan, Bu.

Catatan: tulisan di atas disusun tanpa menelisik rujukan, termasuk
mesin pencari — kecuali
pemeriksaan ejaan penulisan nama; disengaja untuk menyegarkan ingatan kejadian 3 s.d. 2 dekade lalu. Koreksi silakan ditulis di komentar dan saya ucapkan
terima kasih sebelumnya.

2 Replies to “Margaret”

Comments are closed.