A.S.

Pada mulanya Hillary Clinton berangkat menemui Morsi: konflik Gaza dapat diakhiri, poin untuk kubu Mesir. Musim semi Arab sudah bersemai.

Selanjutnya Suriah, beberapa analis Barat menyebut istilah sabuk Teheran-Baghdad-Lebanon-Damaskus. Polarisasi Sunni-Syiah: kubu Iran mengungkit-ungkit Morsi-Obama karena Saudi Arabia-Amerika Serikat sudah dianggap lazim.

Berlanjut dengan kejatuhan Morsi: Amerika Serikat menahan diri, Saudi langsung mengambil sikap. Kubu Saudi dan Mesir saling mengirim salvo. Kubu Iran mengambil pelajaran, soal Morsi-Obama terkadang disebut-sebut.

Suriah bergolak kembali, dunia cemas dengan risiko Perang Dunia. Giliran Kubu Iran vs. Saudi dan lagi-lagi peran Amerika Serikat dijadikan sindiran.

Sekarang komunikasi Rouhani-Obama membuka kebuntuan yang sudah
berlangsung sejak 1979, apakah celetukan “soal-soal Amerika
Serikat” terkait geopolitik Timur Tengah akan berlanjut? Continue reading “A.S.”

Perihal “Angkot Day”

Tentang kampanye dan eksperimen sosial [Angkot
Day
](http://angkotday.info) yang akan
diselenggarakan teman-teman Riset Indie besok, 20 September, pukul
05.00-19.00, saya ucapkan selamat mencoba! Karena ini rintisan
komunitas, maka dilakukan secara parsial, kesadaran relawan, dan
bersifat model. Jadi mari kita masyarakat, khususnya warga Bandung,
melihat dengan pikiran terbuka terlebih dulu inisiatif untuk berubah
menjadi lebih baik.

Angkot Day akan dilangsungkan dengan cara menggratiskan trayek
angkot Abd. Muis-Dago. Yang lebih penting: angkot yang
mengikuti eksperimen ini tidak diperbolehkan mengetem (berhenti
dalam waktu yang tidak jelas dengan tujuan menunggu penumpang yang
juga belum jelas kedatangannya), dilarang dikemudikan dengan
ugal-ugalan, dan ujungnya menghasilkan ketertiban dan kenyamanan
untuk penumpang. Untuk pengamatan selama eksperimen, di setiap
angkot akan diikuti oleh seorang relawan pemantau. Continue reading “Perihal “Angkot Day””

Bersepeda Seperti Sediakala

Sebenarnya dalam bayangan saya tentang bersepeda adalah seperti sediakala™.

Saat itu sepeda yang sudah dianggap bagus adalah “Phoenix, buatan RRT” (Republik Rakyat Tiongkok). KW-1 dst. dari Phoenix bertebaran, antara lain “Turangga” buatan Sidoarjo. Phoenix tsb. berharga Rp 150-an ribu pada masa itu dan sudah kinclong. Tanpa perlengkapan khusus seperti gigi sekian nomor, apalagi speedometer dan GPS. Perlengkapan tambahan hanya rem dan sandaran untuk parkir.

Untuk Bandung Utara, sepeda seadanya seperti ini memang menyengsarakan: saya pernah mencoba memboyong ke sini waktu kuliah, hanya untuk melaju dari pintu gerbang kampus bagian depan ke perpustakaan di belakang, perlu mengayuh berbonus tersengal-sengal, sedangkan pada arah sebaliknya, direpotkan oleh pengereman yang mendebarkan jantung lebih keras.

Sebaliknya, pada saat saya tinggal di Rancaekek, Bandung Timur, hampir semua urusan sehari-hari dilakukan dengan sepeda dan super-praktis. Dua unit sepeda untuk satu keluarga sudah nyaman mengitari kompleks perumahan sampai belanja ke pasar besar kecamatan. Penitipan sepeda berskala besar di stasiun kereta api Rancaekek juga disediakan, termasuk feature sepeda diamankan secara khusus jika pemiliknya tertinggal kereta api yang datang terakhir. Continue reading “Bersepeda Seperti Sediakala”

Balasan Kebaikan

Seseorang dengan pikiran pendek mengambil kesimpulan gegabah, Tidak ada artinya kebaikan atau keburukanku, toh aku telah berlaku buruk pun tidak menjadikan masalah buatku!

Segumpal kesadaran dalam dirinya menyelinap dengan bisikan halus, Itulah Maha Pengasih dan Penyayang Tuhanmu: engkau berlaku buruk pun, tetap diberi kesempatan memikirkan perilakumu sendiri. Tidak malu kau?