Perihal “Angkot Day”

Tentang kampanye dan eksperimen sosial [Angkot
Day
](http://angkotday.info) yang akan
diselenggarakan teman-teman Riset Indie besok, 20 September, pukul
05.00-19.00, saya ucapkan selamat mencoba! Karena ini rintisan
komunitas, maka dilakukan secara parsial, kesadaran relawan, dan
bersifat model. Jadi mari kita masyarakat, khususnya warga Bandung,
melihat dengan pikiran terbuka terlebih dulu inisiatif untuk berubah
menjadi lebih baik.

Angkot Day akan dilangsungkan dengan cara menggratiskan trayek
angkot Abd. Muis-Dago. Yang lebih penting: angkot yang
mengikuti eksperimen ini tidak diperbolehkan mengetem (berhenti
dalam waktu yang tidak jelas dengan tujuan menunggu penumpang yang
juga belum jelas kedatangannya), dilarang dikemudikan dengan
ugal-ugalan, dan ujungnya menghasilkan ketertiban dan kenyamanan
untuk penumpang. Untuk pengamatan selama eksperimen, di setiap
angkot akan diikuti oleh seorang relawan pemantau.

Street Sound

Gagasan mereka seperti melanjutkan sejumlah pendapat dan pengalaman
manajemen angkutan kota di negara-negara yang lebih tertib, yaitu:

1. Mengembalikan fungsi sopir sebagai pekerja yang terjamin
pendapatannya, dan bukan disibukkan dengan mencari nafkah
berdasarkan jumlah penumpang.
1. Mendapatkan tolok-ukur pengaruh angkot mengetem terhadap
lalu-lintas secara umum, karena angkot kerap dituding sebagai biang
kemacetan.

Di beberapa negara yang lebih tertib, angkutan kota disediakan dalam
bentuk kontrak antara layanan penyedia angkutan (biasanya pihak
swasta) dan pemerintah kota, sbb.:

1. Penyedia angkutan menyediakan kendaraan dan
mengikuti jam kerja dan rute yang sudah disusun pemerintah
kota.
1. Pemerintah kota menyewa layanan penyedia angkutan secara penuh.
1. Penumpang membeli karcis dari pemerintah — yang berarti ongkos dari
penumpang langsung masuk kas pemerintah. Karcis tsb. yang digunakan
untuk naik angkutan kota yang berjalan sesuai ketentuan

Untuk Indonesia, Organda dapat ditempatkan pada posisi “penyedia
angkutan” dengan mekanisme yang diatur bersama pemilik kendaraan dan
sopir.

On a Way Home

Dalam eksperimen Angkot Day besok, dua hal yang menggelitik:

1. Mengapa penumpang perlu digratiskan selama eksperimen? Bukannya
soal ongkos relatif sudah diterima penumpang. Selain itu, apakah
dengan kondisi gratis ini tidak menyebabkan adanya perbedaan dengan
hari-hari biasa, sehingga menjadikan bias pada hasil eksperimen?
1. Mengapa tidak sekalian dilakukan uji coba dengan berhenti hanya
di tempat-tempat yang telah ditentukan — anggaplah sebagai “halte
bayangan”, jika dianggap halte yang ada sekarang kurang banyak?

Saya tanyakan dua poin di atas lewat email ke Riset Indie dan juga
saya konfirmasi lewat Twitter hari ini, belum ada penjelasan mereka.

Hal penting tentang kampanye dan eksperimen sosial Angkot Day ini
adalah kemampuan kelompok menjadi penyelenggara. Selama ini saya
berharap eksperimen seperti ini dibiayai oleh kelompok masyarakat
yang berkecukupan (dalam terminologi klasik, “kaum borjuis”) seperti
yang terlihat di Era Pencerahan di Eropa. Tampaknya untuk Indonesia,
kondisinya berbeda dan silakan saja, pihak manapun yang bergerak
terlebih dulu untuk inisiatif perubahan ke arah baik.

Sambil diucapkan puji syukur alhamdulillah.

Respon Sekretaris Organda Kota Bandung dapat dibaca di
[tulisan di
Tempo](http://www.tempo.co/read/news/2013/09/04/058510322/Angkot-di-Bandung-Akan-Digratiskan).