Kisah Musa dan Proses

Ikhtisar tausiyah oleh Sanusi Uwes di Masjid Ulul Albab, Jl. Kawung
Ungu, Sukaluyu, Bandung 40123, 14 Mei 2015.

* * *

Penjelasan dimulai dari tafsir ayat yang dibacakan saat salat subuh:
kisah Musa alaihissalam menerima perintah Tuhan di lembah. Gambaran
lembah dalam persepsi orang Indonesia adalah tempat yang lebih rendah
dibandingkan sekitarnya, sedangkan dalam film [The Ten Commandments](http://www.imdb.com/title/tt0049833/)
ditampilkan dalam bentuk ketinggian, yakni bukit atau gunung. Musa
sampai di sana setelah perjalanan panjang dari Mesir –setelah kejadian
pembunuhan di Mesir dan Musa melarikan diri dikejar-kejar warga Mesir,
kemudian sampailah di Madyan, membantu dua perempuan yang sedang
menggembalakan ternak, dan kemudian dipertemukan dengan ayah mereka,
Syuaib alaihissalam. Dinikahkanlah Musa dengan salah seorang perempuan
tsb. dengan mahar bekerja sebagai penggembala selama delapan tahun, yang
kemudian digenapkan menjadi sepuluh tahun oleh Musa. Hal itu semua
dijelaskan dalam Al Quran, demikian keterangan ustaz.

Dari kisah Musa di Mesir, dijelaskan di dalam Quran bahwa Allah
menurunkan beberapa kali peringatan: kedatangan katak, ular, belalang,
dan air sungai menjadi darah. Pada setiap peringatan tsb. Musa berdoa
untuk mengatasi masalah tsb. dan dengan izin Allah dapat diatasi, namun
Firaun yang sebelumnya berjanji tunduk pada Allah, setelahnya
mengingkari lagi janji tsb. Hingga akhirnya Allah memerintahkan Musa
untuk menghadapi langsung Firaun yang sudah keterlaluan menganggap
dirinya sebagai Tuhan. Kisah Musa tsb. berlanjut hingga mukjizat yang
sangat terkenal, yaitu dibelahnya Laut Merah.

Moral dari kisah-kisah ini, demikian Ustaz Uwes mulai membuka paruh
kedua tausiyahnya, adalah peringatan dari Allah senantiasa melewati
proses-proses dan bagian inilah yang perlu dijadikan pelajaran oleh umat
Islam. Selalu ada proses pertama, kedua, dst. yang cukup panjang. Dengan
demikian jika kita berdoa, maka yang juga penting dicamkan adalah harus
diikuti dengan menjalani proses menuju harapan dalam doa tsb., yaitu
berusaha, ikhtiar manusia.

Penciptaan Adam alaihissalam pun juga demikian: bukan diciptakan
kemudian langsung memahami isi alam semesta, tetapi ada masa dikenalkan,
dididik, dan diuji. Bahkan ketetapan manusia sebagai khalifah di muka
bumi pun diuji dengan kejadian pohon di dalam surga dan kemudian manusia
diturunkan ke muka bumi. Semua ada prosesnya dan mengikuti sunnatullah
atau hukum alam.

Oleh karena itu dalam berdoa, jangan menjadikan Allah sebagai suruhan
untuk keinginan ini dan itu, melainkan harus diimbangi dengan usaha yang
keras dan bersedia mengikuti proses-proses tsb. Ini yang saya lihat
masih kurang dipahami oleh umat Islam di Indonesia
, komentar ustaz.
Memang ada kejadian yang langsung tanpa melewati proses, namun itu
sangat khusus, yaitu mukjizat.

* * *

Demikian tausiyah setelah salat subuh tadi pagi. Dari beberapa kali saya
dengar tema tentang berdoa dan berusaha, Sanuwi Uwes selalu menekankan
sunnatullah dalam hal hukum-hukum alam yang saling melengkapi dengan
ketentuan dari Allah subhanahu wataala.