Penjahat tapi Salat

Salinan tulisan lama, 8 Maret 2004, yang perlu diselamatkan dari arsip blog De Gromiest, paguyuban muslim asal Indonesia di Groningen, Belanda.


Pada salah satu pertemuan yang tidak direncanakan di rumah Concordia
beberapa pekan lalu, saya mendapat keterangan yang indah bahwa ujian
hidup itu tidak perlu harus diada-adakan atau dilatih, melainkan
sudah ada di depan kita dan tinggal dijalani. Pada saat ban sepeda
bocor, itu juga ujian; bagaimana tingkah laku kita menghadapinya
adalah juga cermin sampai seberapa tinggi nilai yang (telah) kita
dapat.

Demikian halnya pertanyaan tentang ketuhanan, yang selama ini
biasanya menjadi debat kusir pada diskursus teologi, tiba-tiba dalam
waktu beberapa hari ini muncul di depan saya. Berondongan pertanyaan
sulit dan perlu perenungan itu terlontar begitu saja dari mulut dua bocah kecil.

Aturan L'Hôpital
Diambil dari halaman Wikipedia tentang Aturan L’Hôpital

Pada mulanya secara hati-hati saya perkenalkan mereka pada konsep
surga dan neraka. Sekalipun hal ini agak abstrak, namun saya berdoa
mudah-mudahan dapat menjadi penjelasan yang mengena tentang tujuan
salat. Tentu kurang baik apabila hanya dijelaskan bahwa
surga-neraka itu esensi salat bagi umat Islam, melainkan sebagai
pelengkap penjelasan lain bahwa kita perlu berterima kasih atas
semua kebaikan yang diberikan oleh Allah.

Saya sudah siap-siap, rasanya tidak lama lagi pertanyaan balik yang
tajam akan berdatangan. Saya ingat pada saat menjelaskan Allah itu
Maha Besar, serta-merta Farras yang sedang menyukai ungkapan “tien
hondred duizend miljoen”
langsung balik bertanya: seberapa besar,
Pak? Lebih besar mana dengan reus (”raksasa”), dengan planet? Dan
disebutkan koleksi ukuran angka yang menurut anggapan dia itulah
bilangan terbesar. (Saya belum mengemukakan hipotesis [atau premis?]
bahwa apabila terdapat sebuah bilangan terbesar bernama N, maka akan
terdapat yang lebih besar lagi, yakni N + 1, dengan asumsi N anggota
bilangan bulat.)

Nah, tentang surga dan neraka ini, keterangan dasarnya: orang yang
shalat tentu (dia belum faham ungkapan insya Allah atau “atas izin
Allah”) masuk surga, sedangkan penjahat masuk neraka. Pada beberapa hari
pertama, dua kondisi itu diterima baik-baik. Tidak ada pernyataan
apapun.

Demikianlah, otak manusia dibuat oleh Penciptanya yang Maha Kuasa
untuk berputar dan hidup. Hati manusia juga dititipi sejumput
cahaya-Nya. Akhirnya sampai juga pertanyaan tersebut.

+ Bapak, kalau penjahat tapi salat, apakah dia masuk surga?

[ … saya perlu mengembangkan prasangka positif dulu …]
- Jika orang sudah salat, maka ia tidak boleh menjadi penjahat
lagi. Karena orang salat itu tidak boleh jahat.

+ Tapi bagaimana, jika jadi penjahat terus, sampai opa, masih jadi
penjahat juga?

- Tentu saja tidak boleh. Kalau orang tersebut sudah salat, dia
harus berhenti jadi penjahat. Tidak usah menunggu menjadi opa.

[ … time out dulu… main… terus kembali lagi …]
+ Bapak, bagaimana kalau setelah jadi opa, dia salat, apakah masuk
surga?

- Ya, jika orang tersebut berhenti menjadi penjahat dan kemudian
melakukan salat dengan baik, maka dia akan masuk surga.

+ Bagaimana kalau baru salat sekali, waktu jadi opa, terus
kemudian dood (meninggal)?

[ … cesss… ini gabungan pertanyaan teologi dengan Kalkulus Dasar
tentang konsep limit, menggabungkan Al Khwarizmi dengan L’Hôpital yang masyhur dengan Aturan Apitnya …]

Demikianlah, kombinasi ketiga kondisi, yakni amaliah, tobat, dan
maut, dilontarkan dengan banyak variasi. Tidak perlu dikutipkan
semua di sini, karena bukan hal-hal lahiriah itu esensi yang saya
tangkap lebih jauh.

Sambil saya sibuk menjelaskan beberapa prinsip keimanan dengan
bahasa sederhana yang dimengerti mereka, saya jadi melihat bahwa
pertanyaan seperti itu —baik yang tersampaikan atau disimpan
di lubuk hati yang dalam— adalah tipikal hati yang jernih dan
mendasar dari umat manusia. Farras dan Safira itu hanya wadah fisik
yang saya lihat dengan mata, namun tentunya semua anak-anak yang
masih bersih, yang dibekali cahaya oleh Penciptanya untuk mengarungi
alam semesta yang fana ini, niscaya terbitlah pemikiran seperti itu.
Pertanyaan dan kesimpulan sementara yang saling bersusulan sebagai
gabungan hukum induksi dan deduksi, keduanya muncul begitu saja.
Kita sebagai orang yang lebih tua, lebih mengerti, tidak sampai
perlu mendikte mereka agar mengambil jalan penalaran seperti yang
sering kita mau. Penjelasan yang saya berikan benar-benar hanya
ilmu pengetahuan dasar, sunnatullah yang paling elementer dan
diterima oleh semua orang, namun dengan kejernihan pikiran anak-anak
—ya, semua anak!— mereka bisa mengolahnya menjadi
lebih rumit dan lebih fundamental dari rocket science.
Jikalau Neil Armstrong dapat menancapkan bendera di permukaan bulan,
siapa yang sanggup menancapkan iman di dalam hati, tempat yang jauh
lebih dekat, kecuali Dia Yang Membolak-balik Hati?

Insya Allah cahaya yang dibekalkan oleh Allah itu melekat terus di
dalam hati manusia. Hanya saja dengan waktu berjalan, pengetahuan
bertambah, rasa percaya diri meningkat, hal-hal tersebut
sedikit-banyak menghalangi cahaya itu untuk menerangi jiwa. Hampir
semua orang (untuk tidak mengatakan “semua orang”) sampailah pada
pertanyaan-pertanyaan semacam yang diungkapkan oleh anak-anak itu.
Namun sebagian pertanyaan itu menjadi padam atau tertutup
bayang-bayang keakuan, sehingga tidak dapat terungkap sebagai
pencarian yang jernih.

Rayhan, sebenarnya begini…

Semua orang yang sudah salat, sekalipun baru sekali, maka dia akan
masuk surga. Tapi, Rayhan harus ingat juga, tidak ada satu orang pun
di dunia ini yang tahu kapan dia akan dood. Kalau misalnya dia
belum sempat salat terus dood, kan tidak jadi masuk surga.
Nah, oleh karena itu, tidak usah menunggu menjadi opa dulu untuk
salat. Segera saja salat, dan ingat, begitu sudah salat, maka
orang itu harus berhenti menjadi penjahat.

One Reply to “Penjahat tapi Salat”

  1. Pingback: Koleksi. Kolase

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *