“Sing Waras Sabar”

Lewat salah satu milis, saya baca tulisan Hartono Ahmad Jaiz berjudul
Sing Waras Ngalah? Dari pencarian Google, tulisan tersebut
[dimuat di Arrahmah](http://www.arrahmah.com/news/2014/04/08/sing-waras-ngalah.html), ditampilkan oleh A. Z. Muttaqin, bertanggal
8 April 2014. Kutipan sebagian tulisan tsb.:

Ketika manusianya sudah membuat aturan tidak waras seperti itu, maka orang waras pun mau tidak mau harus mengalah. Tidak berkutik lagi. Sementara itu orang-orang yang tidak waras justru mengambil kesempatan.

Kesempatan apa?

Kesempatan untuk membuat, mengkader sebanyak-banyaknya orang yang tidak waras.

Untuk apa?

Untuk menambah suara dalam pemilihan ini dan itu, dari pilkada bahkan pilihan RT sampai pilihan caleg, bahkan penguasa tertinggi di suatu negeri.

Pengkaderan sebanyak-banyaknya agar jadi orang yang tidak waras? Aneh.

Di dunia ini, ketika norma yang dibangun sudah berlandaskan menyamakan orang waras dengan orang tidak waras itu sendiri sudah aneh. Sehingga yang ditempuh selanjutnya pasti tidak waras pula.

Continue reading ““Sing Waras Sabar””

A.S.

Pada mulanya Hillary Clinton berangkat menemui Morsi: konflik Gaza dapat diakhiri, poin untuk kubu Mesir. Musim semi Arab sudah bersemai.

Selanjutnya Suriah, beberapa analis Barat menyebut istilah sabuk Teheran-Baghdad-Lebanon-Damaskus. Polarisasi Sunni-Syiah: kubu Iran mengungkit-ungkit Morsi-Obama karena Saudi Arabia-Amerika Serikat sudah dianggap lazim.

Berlanjut dengan kejatuhan Morsi: Amerika Serikat menahan diri, Saudi langsung mengambil sikap. Kubu Saudi dan Mesir saling mengirim salvo. Kubu Iran mengambil pelajaran, soal Morsi-Obama terkadang disebut-sebut.

Suriah bergolak kembali, dunia cemas dengan risiko Perang Dunia. Giliran Kubu Iran vs. Saudi dan lagi-lagi peran Amerika Serikat dijadikan sindiran.

Sekarang komunikasi Rouhani-Obama membuka kebuntuan yang sudah
berlangsung sejak 1979, apakah celetukan “soal-soal Amerika
Serikat” terkait geopolitik Timur Tengah akan berlanjut? Continue reading “A.S.”

Perihal “Angkot Day”

Tentang kampanye dan eksperimen sosial [Angkot
Day
](http://angkotday.info) yang akan
diselenggarakan teman-teman Riset Indie besok, 20 September, pukul
05.00-19.00, saya ucapkan selamat mencoba! Karena ini rintisan
komunitas, maka dilakukan secara parsial, kesadaran relawan, dan
bersifat model. Jadi mari kita masyarakat, khususnya warga Bandung,
melihat dengan pikiran terbuka terlebih dulu inisiatif untuk berubah
menjadi lebih baik.

Angkot Day akan dilangsungkan dengan cara menggratiskan trayek
angkot Abd. Muis-Dago. Yang lebih penting: angkot yang
mengikuti eksperimen ini tidak diperbolehkan mengetem (berhenti
dalam waktu yang tidak jelas dengan tujuan menunggu penumpang yang
juga belum jelas kedatangannya), dilarang dikemudikan dengan
ugal-ugalan, dan ujungnya menghasilkan ketertiban dan kenyamanan
untuk penumpang. Untuk pengamatan selama eksperimen, di setiap
angkot akan diikuti oleh seorang relawan pemantau. Continue reading “Perihal “Angkot Day””

Bersepeda Seperti Sediakala

Sebenarnya dalam bayangan saya tentang bersepeda adalah seperti sediakala™.

Saat itu sepeda yang sudah dianggap bagus adalah “Phoenix, buatan RRT” (Republik Rakyat Tiongkok). KW-1 dst. dari Phoenix bertebaran, antara lain “Turangga” buatan Sidoarjo. Phoenix tsb. berharga Rp 150-an ribu pada masa itu dan sudah kinclong. Tanpa perlengkapan khusus seperti gigi sekian nomor, apalagi speedometer dan GPS. Perlengkapan tambahan hanya rem dan sandaran untuk parkir.

Untuk Bandung Utara, sepeda seadanya seperti ini memang menyengsarakan: saya pernah mencoba memboyong ke sini waktu kuliah, hanya untuk melaju dari pintu gerbang kampus bagian depan ke perpustakaan di belakang, perlu mengayuh berbonus tersengal-sengal, sedangkan pada arah sebaliknya, direpotkan oleh pengereman yang mendebarkan jantung lebih keras.

Sebaliknya, pada saat saya tinggal di Rancaekek, Bandung Timur, hampir semua urusan sehari-hari dilakukan dengan sepeda dan super-praktis. Dua unit sepeda untuk satu keluarga sudah nyaman mengitari kompleks perumahan sampai belanja ke pasar besar kecamatan. Penitipan sepeda berskala besar di stasiun kereta api Rancaekek juga disediakan, termasuk feature sepeda diamankan secara khusus jika pemiliknya tertinggal kereta api yang datang terakhir. Continue reading “Bersepeda Seperti Sediakala”

Balasan Kebaikan

Seseorang dengan pikiran pendek mengambil kesimpulan gegabah, Tidak ada artinya kebaikan atau keburukanku, toh aku telah berlaku buruk pun tidak menjadikan masalah buatku!

Segumpal kesadaran dalam dirinya menyelinap dengan bisikan halus, Itulah Maha Pengasih dan Penyayang Tuhanmu: engkau berlaku buruk pun, tetap diberi kesempatan memikirkan perilakumu sendiri. Tidak malu kau?

Agama dan Spiritualisme

Saya menjumpai beberapa tulisan yang memberi penekanan perbedaan antara agama dan spiritualisme dalam konteks yang tidak tepat, biasanya dalam bentuk sbb.:

  1. Agama dianggap memisah-misahkan manusia dalam sekat-sekat keyakinan, sedangkan spiritualisme merangkul semua manusia dalam satu pemahaman menuju Tuhan.
  2. Agama disebut lebih membuat penganutnya sibuk dengan aspek ritual mengarah kepada Tuhan, sedangkan spiritualisme terlihat lebih manusiawi, salah satunya karena pemahaman menuju Tuhan lewat apresiasi terhadap sesama manusia.

Continue reading “Agama dan Spiritualisme”

Calo Haji

Salah seorang anggota dari keluarga kami di kampung di Jawa Timur
usai menyelesaikan persyaratan administrasi berangkat ibadah haji.
Tentu perlu antre, jika tidak salah untuk keberangkatan sepuluh
tahun mendatang.

Petugas penerima kelengkapan administrasi dari Departemen Agama
berpesan padanya, kira-kira begini,

Pak, nanti jika ada yang menawari supaya bisa berangkat lebih
cepat, itu memang orang dari sini. Bapak silakan
pikir baik-baik, saran saya lebih baik digunakan untuk hal lain yang
lebih bermanfaat seperti shodaqoh.

Continue reading “Calo Haji”

Senarai

Teknik penulisan senarai, baik menggunakan simbol (bullet) atau nomor (numbering) sedang marak. Dalam format HTML, <ul> atau <ol> dan <li> mewakili penulisan senarai; dan kode `\item` di LaTeX.

Dalam penulisan, senarai biasanya dipakai untuk menjelaskan poin-poin penting secara ringkas, sehingga pembaca langsung pada simpul-simpul pikiran yang dimaksud. Cergas dan ringkas; berbeda dengan narasi panjang yang memang lebih ditujukan untuk paparan kaidah sebab-akibat atau perenungan yang perlu diendapkan dulu. Continue reading “Senarai”

Saran yang Terlupakan

Mendadak salah seorang teman yang pernah bersama mengerjakan satu proyek di Jakarta semasa mahasiswa muncul menyapa di Facebook. Berarti kira-kira dua puluh tahun lalu. Fenomena yang lumrah dari zaman Internet belum sampai di sini dan sekarang dipertemukan lagi dengan media sosial.

Dia bercerita pengalamannya setelah menyelesaikan proyek, kembali ke kampus, menyelesaikan skripsi, mencoba peruntungan di bisnis sarang burung, meleset; berlanjut dengan bekerja di bawah mandor asing, merasa disepelekan, tapi isteri menyemangati agar introspeksi, dan kesulitan berhasil diatasi. Kisah selanjutnya masih berliku lewat perkenalan dengan mandor tempat kerja, menjadi pegawai lagi, dan akhirnya sekira 2002, diputuskan untuk berhenti dari jabatan di kantornya dan memulai berbisnis sendiri.

Kisah tersebut tidak perlu dibuat mendayu, cukup hikmah bahwa jalan hidup setiap orang unik, dapat mudah seperti kebetulan atau membingungkan mencari-cari cahaya.

Saya masih ingat dinasihati, ‘Pokoknya, sepulang dari proyek ini, kamu harus bikin usaha sendiri!’, dia mengingatkan perkataan saya dulu.

Sedikit terperangah: saya lupa perkataan tsb. dan usaha saya dan teman-teman di Bandung masih merangkak.

Margaret

Dari Beranda Facebook, saya mendapat kabar Margaret Thatcher
meninggal dunia. Saya tertarik menulis kenangan tentang Thatcher
yang disebut “wanita besi”. Tentang sedikit catatan seputar dirinya saat berkuasa
dan setelahnya.

Thatcher memang punya pengaruh luas. Rasanya sepanjang usia saya
mengenali pemerintahan di Inggris (atau Kerajaan Bersatu, UK?),
Thatcher yang paling mendominasi ingatan. Kisah-kisahnya dimuat di
media massa pada tahun 1990-an — kendati saya tidak hapal
tahun-tahun kekuasaannya. Pada saat kunjungannya ke Jakarta pertama
kali, sambutan akan kedatangannya meramaikan media massa. Semacam
kebanggaan di zaman Orde Baru, Presiden Soeharto menerima tamu
sekelas Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher. Kira-kira sama
semarak dengan kedatangan Presiden Prancis François Mitterrand. Continue reading “Margaret”