“Sing Waras Sabar”

Lewat salah satu milis, saya baca tulisan Hartono Ahmad Jaiz berjudul
Sing Waras Ngalah? Dari pencarian Google, tulisan tersebut
[dimuat di Arrahmah](http://www.arrahmah.com/news/2014/04/08/sing-waras-ngalah.html), ditampilkan oleh A. Z. Muttaqin, bertanggal
8 April 2014. Kutipan sebagian tulisan tsb.:

Ketika manusianya sudah membuat aturan tidak waras seperti itu, maka orang waras pun mau tidak mau harus mengalah. Tidak berkutik lagi. Sementara itu orang-orang yang tidak waras justru mengambil kesempatan.

Kesempatan apa?

Kesempatan untuk membuat, mengkader sebanyak-banyaknya orang yang tidak waras.

Untuk apa?

Untuk menambah suara dalam pemilihan ini dan itu, dari pilkada bahkan pilihan RT sampai pilihan caleg, bahkan penguasa tertinggi di suatu negeri.

Pengkaderan sebanyak-banyaknya agar jadi orang yang tidak waras? Aneh.

Di dunia ini, ketika norma yang dibangun sudah berlandaskan menyamakan orang waras dengan orang tidak waras itu sendiri sudah aneh. Sehingga yang ditempuh selanjutnya pasti tidak waras pula.

Continue reading ““Sing Waras Sabar””

Saran yang Terlupakan

Mendadak salah seorang teman yang pernah bersama mengerjakan satu proyek di Jakarta semasa mahasiswa muncul menyapa di Facebook. Berarti kira-kira dua puluh tahun lalu. Fenomena yang lumrah dari zaman Internet belum sampai di sini dan sekarang dipertemukan lagi dengan media sosial.

Dia bercerita pengalamannya setelah menyelesaikan proyek, kembali ke kampus, menyelesaikan skripsi, mencoba peruntungan di bisnis sarang burung, meleset; berlanjut dengan bekerja di bawah mandor asing, merasa disepelekan, tapi isteri menyemangati agar introspeksi, dan kesulitan berhasil diatasi. Kisah selanjutnya masih berliku lewat perkenalan dengan mandor tempat kerja, menjadi pegawai lagi, dan akhirnya sekira 2002, diputuskan untuk berhenti dari jabatan di kantornya dan memulai berbisnis sendiri.

Kisah tersebut tidak perlu dibuat mendayu, cukup hikmah bahwa jalan hidup setiap orang unik, dapat mudah seperti kebetulan atau membingungkan mencari-cari cahaya.

Saya masih ingat dinasihati, ‘Pokoknya, sepulang dari proyek ini, kamu harus bikin usaha sendiri!’, dia mengingatkan perkataan saya dulu.

Sedikit terperangah: saya lupa perkataan tsb. dan usaha saya dan teman-teman di Bandung masih merangkak.

Moleskine

Seorang teman terlihat memberi jempol untuk halaman [Moleskine Asia di Facebook](https://www.facebook.com/moleskineasia). Moleskine, teringat saat membaca tulisan beberapa desainer lewat blog dan karena penasaran saya tanyakan ke [Boy Avianto](http://home.avianto.com) sebenarnya apa keistimewaan buku catatan tsb. Dengan jujur Boy menjelaskan ya mirip saja dengan buku saku lain, namun dalam hal Moleskine ini ada aspek sentimental menggunakan merk tertentu yang sangat terkenal. Jawaban yang saya sukai karena toh fungsi buku lebih diprioritaskan ketimbang atributnya. Kendati, lanjut Boy, di buku tsb. ada nomor seri yang dapat didaftarkan lewat web dan itu menjadi catatan personal yang unik.

Tentu saya tidak tahu sejauh mana keunikan tsb. karena belum pernah membeli Moleskine dan hanya menikmati keanggunannya di sejumlah toko buku yang gemerlap. Iseng saya cari tulisan tentang Moleskine sore ini, hasilnya masih sama dengan tahun-tahun lalu, yaitu dilengkapi dengan harganya yang mahal. Padahal di halaman mereka di Facebook ada satu foto berisi tumpukan Moleskine diberi keterangan, Berapa buku tumpukan milik Anda? Sebagian komentator menjawab di bawah lima, namun ada kelompok kecil komentator yang menyebut banyak atau di atas sepuluh buku. Berarti kelompok berkecukupan yang menilai keelokan Moleskine sepadan dengan ide kreatif mereka yang dituangkan di lembar-lembarnya.

Continue reading “Moleskine”

Belanja Konsumsi Ramadan

Ramadan 1432H hari ini berakhir. Salah satu pengulangan pembicaraan
sejak sebelum Ramadan adalah konsumsi kaum muslimin/muslimat dalam
“bulan menahan diri” ini. Terlihat dari perilaku sehari-hari di
sekitar hingga perhitungan lembaga terkait, konsumsi umat Islam
terlihat menaik. Sebagai tulisan yang bersifat introspeksi, tentu
baik adanya: mengingatkan kita kaum muslimin agar senantiasa
menjauhi pemborosan, karena “mubazir itu teman setan”, dan
lebih-lebih bertentangan dengan salah satu semangat bulan Ramadan,
yaitu berempati terhadap bagian dari umat yang kekurangan.

Namun ada pula yang dengan spekulatif menjadikan hal ini seperti
tudingan terhadap umat Islam secara umum, bahwa Ramadan telah
merepotkan kondisi perekonomian di Indonesia karena nafsu belanja
yang meningkat — dan berpotensi “gila-gilaan”, sehingga berujung
pada kenaikan inflasi. Karena Ramadan akan datang sepanjang tahun
Qomariyah, apakah hal ini akan menjadi rutinitas?

Continue reading “Belanja Konsumsi Ramadan”

Fungsi Dasar

Ini percakapan setengah dasawarsa lalu antara saya dengan seorang
perempuan Betawi yang menikah dengan warga negara Belanda dan
tinggal di desa sekitar 30 km dari Groningen, ibukota provinsi.
Dia mengemukakan keheranannya tentang orang Belanda yang dia kenal
(tentu sangat sedikit dan tidak menggambarkan keseluruhan penduduk
Belanda) yang memilih tinggal di rumah sewa sepanjang hidupnya,
tidak berinisiatif membeli rumah sendiri, padahal dari sisi
finansial memungkinkan menurut hitungannya. Saat itu saya hanya
mendengarkan, mengangguk ringan, dan teringat “teori investasi”
sederhana oleh teman kuliah: daripada menyewa rumah, lebih baik
mengusahakan uang muka untuk membeli rumah, setelah itu uang sewa
rumah dapat dialihkan sebagai angsuran rumah; dengan demikian,
setelah rumah lunas, kita punya hasil berupa rumah tsb. Saya cukup
yakin, teori sederhana di atas diketahui dan disepakati oleh
mayoritas warga Indonesia.

Percakapan di atas ringan saja, kami tidak menelisik lebih jauh akar
penyebab budaya menyewa rumah di Belanda. Tidak juga mencari-cari
bahan terkait di media, malah sebenarnya tidak dapat dipastikan
klaim mitra bicara di atas sahih adanya.

Continue reading “Fungsi Dasar”