Senarai

Teknik penulisan senarai, baik menggunakan simbol (bullet) atau nomor (numbering) sedang marak. Dalam format HTML, <ul> atau <ol> dan <li> mewakili penulisan senarai; dan kode `\item` di LaTeX.

Dalam penulisan, senarai biasanya dipakai untuk menjelaskan poin-poin penting secara ringkas, sehingga pembaca langsung pada simpul-simpul pikiran yang dimaksud. Cergas dan ringkas; berbeda dengan narasi panjang yang memang lebih ditujukan untuk paparan kaidah sebab-akibat atau perenungan yang perlu diendapkan dulu. Continue reading “Senarai”

Margaret

Dari Beranda Facebook, saya mendapat kabar Margaret Thatcher
meninggal dunia. Saya tertarik menulis kenangan tentang Thatcher
yang disebut “wanita besi”. Tentang sedikit catatan seputar dirinya saat berkuasa
dan setelahnya.

Thatcher memang punya pengaruh luas. Rasanya sepanjang usia saya
mengenali pemerintahan di Inggris (atau Kerajaan Bersatu, UK?),
Thatcher yang paling mendominasi ingatan. Kisah-kisahnya dimuat di
media massa pada tahun 1990-an — kendati saya tidak hapal
tahun-tahun kekuasaannya. Pada saat kunjungannya ke Jakarta pertama
kali, sambutan akan kedatangannya meramaikan media massa. Semacam
kebanggaan di zaman Orde Baru, Presiden Soeharto menerima tamu
sekelas Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher. Kira-kira sama
semarak dengan kedatangan Presiden Prancis Fran├žois Mitterrand. Continue reading “Margaret”

Hari Sastra Indonesia

Maklumat Hari Sastra disampaikan oleh para sastrawan Indonesia di Bukittinggi, Ahad, 24 Maret. Lewat maklumat tsb. ditetapkan tanggal 3 Juli sebagai Hari Sastra Indonesia. Acuan tanggal 3 Juli adalah tanggal kelahiran sastrawan besar Abdul Muis. Hari Sastra digagas Taufik Ismail dengan dua tujuan di antaranya: menumbuhkan kecintaan terhadpa karya sastra Indonesia dan silaturahim antarsastrawan.

Abdul Muis dikenal dalam pelajaran sastra di sekolah lanjutan lewat novel Salah Asuhan. Salah satu kutipan Salah Asuhan pernah dijadikan bacaan di salah satu bab buku teks bahasa Indonesia SMA, sehingga tokoh-tokohnya, terutama Hanafi, akrab buat siswa yang peduli pelajaran bahasa Indonesia. Continue reading “Hari Sastra Indonesia”

1-1-2012

Menjelang akhir 2011 terpikir blog-blog yang saya urus selama ini perlu disegarkan. Tentu dengan lebih banyak tulisan lagi, yang berarti harus ada cara agar lebih sering terpacu menulis. Tidak hanya yang bercecer di Facebook dan Google Plus. Untuk mikroblog, saya merasa agak bosan dan dibatasi ukuran mereka yang terlalu ringkas dan menjadi sekadar percakapan terus-menerus layaknya IRC di masa lalu yang saya juga tidak betah.

Lewat tema WordPress!
Selama ini saya kumpulkan [tautan artikel tentang tema WordPress](http://delicious.com/ikhlasulamal/wordpress+theme), sudah seharusnya dipilih dan dimanfaatkan. Betul, ini memang semata-mata kosmetik, namun asyik juga melihat halaman blog necis. Pilihan [Smashing Magazine untuk 2011](http://wp.smashingmagazine.com/2011/07/05/free-wordpress-themes-2011-edition/) sudah layak dan kandidat sudah dipersiapkan rencana ini. Minimalis dan bersih — dua syarat awal sebelum berkembang pada keperluan lain. Mengapa tidak?

Dari Google Plus terbaca ajakan [Matt Cutts](https://plus.google.com/u/0/100145856129045595138/posts/6vrsD9pab1W) untuk memulai tahun 2012 dengan melakukan hal yang rutin, yang agak berbeda, selama 30 hari dulu, berarti dicoba untuk Januari. Akur dan mari dimulai. Oh ya, tulisan bebas dipasang di sembarang situs web asuhan sendiri.

Selamat datang 2012.

Sepuluh Persen

Ada 10% orang baik, 10% orang bermasalah, dan 80% mengikuti yang sedang dominan saja.

Ini pendapat teman tentang keadaan Indonesia saat ini. Rasio 20:80 sudah umum dikenal, disebut sebagai [Prinsip Pareto](http://en.wikipedia.org/wiki/Pareto_principle “Pareto Principle”). Dua puluh persen sumberdaya menggerakkan delapan puluh persen aktivitas. Dipilah menjadi dua kelompok di atas tampaknya untuk menekankan hal tsb. penting dalam kasus di sekitar kita. Saya juga pernah mendengar paparan salah seorang pegiat kegiatan pemberdayaan masyarakat yang menyebut untuk setiap kelompok yang terdiri atas lima orang, terdapat seorang yang menyetujui perbaikan, seorang “bikin onar”, dan sisanya “mengalir saja”. Yang dilakukan pegiat tadi adalah agar si baik dapat mengatasi pembikin onar, dengan demikian diikuti massa mengalir.

Continue reading “Sepuluh Persen”

Amanah dari Lipatan

Seperti paparan saya tentang memaksa diri sendiri agar disiplin
berkarya dan keyakinan bahwa jumlah latihan penting, seharusnya
sekarang ini saya dapat mengulang pemaksaan di masa lalu, misalnya
satu tulisan setiap hari, disebar ke beberapa tempat kegiatan blog.
Situs ini, [#direktif](http://direktif.web.id), [Google
Plus](https://plus.google.com/u/0/100145856129045595138/about), dan
satu lagi [Wislog](http://wislog.blogspot.com), harus diisi
secara rutin. Masak kalah oleh semangat memasang foto di Flickr?

Salah satu alat latihan yang sudah saya gunakan beberapa kali adalah
Facebook. Dengan ukuran teks yang lebih leluasan dibanding
mikroblog, Facebook terasa nyaman. Hal serupa yang terasa
mengasyikkan di Google Plus. Sayang juga jika ide-ide disebar
serampangan di mikroblog, apalagi ditandai urutan angka. Saya
setuju penuh dengan [tulisan Affan Basalamah tentang
kultwit](http://affanzbasalamah.wordpress.com/2011/04/04/10-alasan-kenapa-kultwit-harusnya-dijadikan-blog-saja/),
sampaikanlah dengan elegan.

Continue reading “Amanah dari Lipatan”

Tinggal Sehari Besok

“Tinggal sehari besok”, terdengar bisik-bisik seorang jemaah Subuh di masjid. Ada yang merasa tercekam akan berpisah dengan bulan mulia, ada juga yang seperti menghela nafas lega. Saya tidak ingin gegabah memvonis: masing-masing memiliki latar belakang dan tetap ada rahasia Allah terhadap kondisi hamba-Nya.

Yang saya syukuri: beberapa kali saya bertemu tukang ojeg kenalan
sedang salat zuhur di masjid di akhir Ramadan ini, selain beberapa
sopir angkot yang memang sudah berlangganan salat berjemaah di
masjid. Pangkalan ojeg di ujung jalan sudah lebih sepi, mengikuti
aktivitas di sekitar yang mulai menurun. Kesibukan yang sedikit
meningkat di masjid membawa harapan karena terlihat ada penumpang
ojeg minta diantar meninggalkan masjid.

Continue reading “Tinggal Sehari Besok”

Semarak di Awal, Harapan untuk Seterusnya

Untuk sebagian orang yang sudah rutin mendirikan sholat berjemaah di
masjid seyogyanya awal Ramadan membuatnya lebih berbahagia: masjid
penuh diisi jemaah sholat Isya’, khotbah, dan sampai tarawih.
Bacaan “amin” setelah Al Fathihah menggaung di dalam masjid. Hampir
seperti sholat Jumat. Ini harus disyukuri, sampai hari-hari
pertengahan Ramadan pun, jumlah barisan sholat masih lebih banyak
dari rata-rata sehari-hari.

Kata sebagian orang dengan bercanda: di awal Ramadan masjid-masjid
semarak, setelah itu surut, kemudian semarak kembali sebelum
berpisah. Ada juga yang mengomentari: seharusnya kesemarakan seperti
ini bukan hanya di bulan Ramadan, melainkan menjadi kebiasaan
sehari-hari.

Continue reading “Semarak di Awal, Harapan untuk Seterusnya”

Ramadan Penjual Rujak

Sekitar dua pekan lalu, penjual rujak yang mangkal dengan gerobaknya
di seberang pintu gerbang masjid di hari Jumat, memberi tahu
rencananya akan pulang kampung ke Garut, Jawa Barat, dari awal
Ramadan. Saya memaklumi kondisinya sebagai penjual makanan yang
kendati tidak ada larangan secara khusus untuk berjualan di siang
hari selama bulan puasa Ramadan, Saya malu, nggak enak,
berjualan selama bulan puasa
, jelasnya kepada saya.

Malu adalah sebagian dari iman dan terhadap kesederhanaan kalimat
yang diucapkan, saya tidak perlu menerka-nerka isi hatinya.
Tempatkanlah segala sesuatu secara proporsional, baik yang tersurat,
pun yang tersirat.

Continue reading “Ramadan Penjual Rujak”

Ayo Menulis!

Inilah pentingnya latihan: mudah terlewat begitu saja, namun segera
terasa jika diperlukan.

Menindaklanjuti ajakan teman menulis artikel untuk majalah edisi
terbatas yang mereka kelola, saya berusaha tidak tergesa-gesa dengan
mengerjakan beberapa hari sebelum tenggat waktu. Ternyata gagasan
tidak mengalir begitu saja ke jari-jemari di atas laptop. Seperti
tumpul, serasa tersumbat. Celaka, bagaimana dengan rencana yang
dicanangkan agar lebih sering menulis blog lagi?

Selain sudah berjanji membuatkan tulisan tsb., jika saya menyerah
dengan membiarkan terkatung-katung keadaan akan lebih parah. Harus
dipaksa, sesuai keyakinan saya bahwa latihan yang cukup — apalagi
banyak — akan mendorong pada gagasan yang lebih luas dan lebih
kreatif. Karena ide tidak turun begitu saja dari langit, bukan hasil
berdiam diri semalaman, melainkan harus disambut dengan latihan
keras.

Jika saya sendiri tidak mempraktikkan, bagaimana hendak meyakinkan
hadirin di acara [Bloglicious 2011 untuk Bandung](http://eevent.com/edittag/bloglicious-bandung) hari ini, saat saya
memaparkan Kiat Beraktivitas Blog?

*Ayo menulis: lagi, terus, dan berkelanjutan*. Tentu ini catatan untuk
saya sendiri, agar melecut lebih keras dan melesat lebih kuat.