Sepuluh Persen

Ada 10% orang baik, 10% orang bermasalah, dan 80% mengikuti yang sedang dominan saja.

Ini pendapat teman tentang keadaan Indonesia saat ini. Rasio 20:80 sudah umum dikenal, disebut sebagai Prinsip Pareto. Dua puluh persen sumberdaya menggerakkan delapan puluh persen aktivitas. Dipilah menjadi dua kelompok di atas tampaknya untuk menekankan hal tsb. penting dalam kasus di sekitar kita. Saya juga pernah mendengar paparan salah seorang pegiat kegiatan pemberdayaan masyarakat yang menyebut untuk setiap kelompok yang terdiri atas lima orang, terdapat seorang yang menyetujui perbaikan, seorang “bikin onar”, dan sisanya “mengalir saja”. Yang dilakukan pegiat tadi adalah agar si baik dapat mengatasi pembikin onar, dengan demikian diikuti massa mengalir.

Amanah dari Lipatan

Seperti paparan saya tentang memaksa diri sendiri agar disiplin berkarya dan keyakinan bahwa jumlah latihan penting, seharusnya sekarang ini saya dapat mengulang pemaksaan di masa lalu, misalnya satu tulisan setiap hari, disebar ke beberapa tempat kegiatan blog. Situs ini, #direktif, Google Plus, dan satu lagi Wislog, harus diisi secara rutin. Masak kalah oleh semangat memasang foto di Flickr?

Salah satu alat latihan yang sudah saya gunakan beberapa kali adalah Facebook. Dengan ukuran teks yang lebih leluasan dibanding mikroblog, Facebook terasa nyaman. Hal serupa yang terasa mengasyikkan di Google Plus. Sayang juga jika ide-ide disebar serampangan di mikroblog, apalagi ditandai urutan angka. Saya setuju penuh dengan tulisan Affan Basalamah tentang kultwit, sampaikanlah dengan elegan.

Belanja Konsumsi Ramadan

Ramadan 1432H hari ini berakhir. Salah satu pengulangan pembicaraan sejak sebelum Ramadan adalah konsumsi kaum muslimin/muslimat dalam “bulan menahan diri” ini. Terlihat dari perilaku sehari-hari di sekitar hingga perhitungan lembaga terkait, konsumsi umat Islam terlihat menaik. Sebagai tulisan yang bersifat introspeksi, tentu baik adanya: mengingatkan kita kaum muslimin agar senantiasa menjauhi pemborosan, karena “mubazir itu teman setan”, dan lebih-lebih bertentangan dengan salah satu semangat bulan Ramadan, yaitu berempati terhadap bagian dari umat yang kekurangan.

Namun ada pula yang dengan spekulatif menjadikan hal ini seperti tudingan terhadap umat Islam secara umum, bahwa Ramadan telah merepotkan kondisi perekonomian di Indonesia karena nafsu belanja yang meningkat –dan berpotensi “gila-gilaan”, sehingga berujung pada kenaikan inflasi. Karena Ramadan akan datang sepanjang tahun Qomariyah, apakah hal ini akan menjadi rutinitas?

Tinggal Sehari Besok

“Tinggal sehari besok”, terdengar bisik-bisik seorang jemaah Subuh di masjid. Ada yang merasa tercekam akan berpisah dengan bulan mulia, ada juga yang seperti menghela nafas lega. Saya tidak ingin gegabah memvonis: masing-masing memiliki latar belakang dan tetap ada rahasia Allah terhadap kondisi hamba-Nya.

Yang saya syukuri: beberapa kali saya bertemu tukang ojeg kenalan sedang salat zuhur di masjid di akhir Ramadan ini, selain beberapa sopir angkot yang memang sudah berlangganan salat berjemaah di masjid. Pangkalan ojeg di ujung jalan sudah lebih sepi, mengikuti aktivitas di sekitar yang mulai menurun. Kesibukan yang sedikit meningkat di masjid membawa harapan karena terlihat ada penumpang ojeg minta diantar meninggalkan masjid.

Kuliah Umum “Islam, Indonesia, dan Pancasila”

Kemarin sore saya menyempatkan diri mendatangi Kuliah Umum yang
diselenggarakan Masjid Salman ITB. Berjudul Islam, Indonesia, dan Pancasila, kuliah umum disampaikan oleh Yudi Latif, penulis buku Negara Paripurna: Historitas, Rasionalitas dan Aktualitas Pancasila. Tema yang menarik bagi saya dengan harapan akan gambaran yang lebih teduh untuk mempertemukan agama dan kebangsaan.

Sedikit yang membuat saya mengernyitkan dahi adalah tulisan yang dipilih sebagai pengantar di undangan Facebook untuk Kuliah Umum ini,

INILAH ironi kolektif bangsa yang gagal. Ibarat sudah memegang mutiara, tapi malah dikubur dan berusaha mencari mutiara lain di tumpukan puing-puing kehancuran rumah milik orang lain.

Mungkin itulah salah satu analogi tentang eksistensi Pancasila sebagai dasar negara Republik ini yang semakin pudar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Korupsi yang diperagakan penyelenggara negara dan kroni-kroninya, tindak kekerasan yang terus masif atas nama pembenaran privat, dan praktik ekonomi yang timpang, serta lemahnya akses-akses bagi warga negara untuk memperoleh hak-hak mendasar adalah secuil bukti kebobrokan negara ini.

http://www.mediaindonesia.com/jendelabuku/2011/07/18/negara-paripurna-itu-semakin-menjauh/

Frase ironi kolektif dan gagal seperti bersahutan dengan “keterpurukan” yang menimbulkan suasana tidak nyaman. Semoga diskusi tsb. tidak menjadi acara ratapan berjemaah.

Semarak di Awal, Harapan untuk Seterusnya

Untuk sebagian orang yang sudah rutin mendirikan sholat berjemaah di masjid seyogyanya awal Ramadan membuatnya lebih berbahagia: masjid penuh diisi jemaah sholat Isya’, khotbah, dan sampai tarawih. Bacaan “amin” setelah Al Fathihah menggaung di dalam masjid. Hampir seperti sholat Jumat. Ini harus disyukuri, sampai hari-hari pertengahan Ramadan pun, jumlah barisan sholat masih lebih banyak dari rata-rata sehari-hari.

Kata sebagian orang dengan bercanda: di awal Ramadan masjid-masjid semarak, setelah itu surut, kemudian semarak kembali sebelum berpisah. Ada juga yang mengomentari: seharusnya kesemarakan seperti ini bukan hanya di bulan Ramadan, melainkan menjadi kebiasaan sehari-hari.

Ramadan Penjual Rujak

Sekitar dua pekan lalu, penjual rujak yang mangkal dengan gerobaknya di seberang pintu gerbang masjid di hari Jumat, memberi tahu rencananya akan pulang kampung ke Garut, Jawa Barat, dari awal Ramadan. Saya memaklumi kondisinya sebagai penjual makanan yang kendati tidak ada larangan secara khusus untuk berjualan pada siang hari selama bulan puasa Ramadan, Saya malu, nggak enak, berjualan selama bulan puasa, jelasnya kepada saya.

Malu adalah sebagian dari iman dan terhadap kesederhanaan kalimat yang diucapkan, saya tidak perlu menerka-nerka isi hatinya. Tempatkanlah segala sesuatu secara proporsional, baik yang tersurat, pun yang tersirat.

Ayo Menulis!

Inilah pentingnya latihan: mudah terlewat begitu saja, namun segera terasa jika diperlukan.

Menindaklanjuti ajakan teman menulis artikel untuk majalah edisi terbatas yang mereka kelola, saya berusaha tidak tergesa-gesa dengan mengerjakan beberapa hari sebelum tenggat waktu. Ternyata gagasan tidak mengalir begitu saja ke jari-jemari di atas laptop. Seperti tumpul, serasa tersumbat. Celaka, bagaimana dengan rencana yang dicanangkan agar lebih sering menulis blog lagi?

Selain sudah berjanji membuatkan tulisan tsb., jika saya menyerah dengan membiarkan terkatung-katung keadaan akan lebih parah. Harus dipaksa, sesuai keyakinan saya bahwa latihan yang cukup –apalagi banyak– akan mendorong pada gagasan yang lebih luas dan lebih kreatif. Karena ide tidak turun begitu saja dari langit, bukan hasil berdiam diri semalaman, melainkan harus disambut dengan latihan keras.

Jika saya sendiri tidak mempraktikkan, bagaimana hendak meyakinkan hadirin pada acara Bloglicious 2011 untuk Bandung hari ini, saat saya memaparkan Kiat Beraktivitas Blog?

Ayo menulis: lagi, terus, dan berkelanjutan. Tentu ini catatan untuk saya sendiri, agar melecut lebih keras dan melesat lebih kuat.

Senja untuk Semua

Di Santorini, sebuah pulau kecil di Yunani, mereka berdatangan untuk menikmati rumah-rumah menghadap ke pantai, songsong senja, amati belai terakhir matahari menyapu dinding, jendela, kincir angin, anak tangga, yang hampir semua dicat putih seolah ingin memberikan sebanyak mungkin cahaya untuk para pelancong. Sebuah harga untuk melepas penat warga Dunia Utara yang dingin dan pucat oleh musim.

Sunset for All People

Fungsi Dasar

Ini percakapan setengah dasawarsa lalu antara saya dengan seorang perempuan Betawi yang menikah dengan warga negara Belanda dan tinggal di desa sekitar 30 km dari Groningen, ibukota provinsi. Dia mengemukakan keheranannya tentang orang Belanda yang dia kenal (tentu sangat sedikit dan tidak menggambarkan keseluruhan penduduk Belanda) yang memilih tinggal di rumah sewa sepanjang hidupnya, tidak berinisiatif membeli rumah sendiri, padahal dari sisi finansial memungkinkan menurut hitungannya. Saat itu saya hanya mendengarkan, mengangguk ringan, dan teringat “teori investasi” sederhana oleh teman kuliah: daripada menyewa rumah, lebih baik mengusahakan uang muka untuk membeli rumah, setelah itu uang sewa rumah dapat dialihkan sebagai angsuran rumah; dengan demikian, setelah rumah lunas, kita punya hasil berupa rumah tsb. Saya cukup yakin, teori sederhana di atas diketahui dan disepakati oleh mayoritas warga Indonesia.

Percakapan di atas ringan saja, kami tidak menelisik lebih jauh akar penyebab budaya menyewa rumah di Belanda. Tidak juga mencari-cari bahan terkait di media, malah sebenarnya tidak dapat dipastikan klaim mitra bicara di atas sahih adanya.